Posts filed under ‘PUISI’

Pesta Pengantin

Pesta itu telah usai

Para tamu-tamu itu telah berpulang

Kursi dan meja telah bertumpuk lagi

dan lampu-lampu mulai kembali padam

 

Pesta itu telah usai

Tak ada lagi hingar-bingar salon

Hentakan musik-musik campur darat

 

Semua kembali sepi

Seperti semula

 

Aku kembali terbaring lemah

di kamar sang pengantin.

Menemaninya menghabiskan malam

agar tak sepi.

Malang, 22 Juli 08        16:08

Juli 26, 2008 at 5:17 am Tinggalkan Komentar

kidung lara

kidung panas masih saja setia berteman

saat malam yang tak bisa lagi menyepuh penat dan lara

saat tundung-tundung biru mulai berlari pada suatu padang berbuih

dan jendela kesuraman bertarung dengan pintu kebijakan

pada sebuah senja surup

terkulai sudah kisah yang berpeluh ini

biarkan saja tertiup angin sesukanya

yang pasti hanya akan berakhir

pada pintu almari yang tertutup kunci

dan gembokanya yang terlempar di sudut lelautan sepi

namun suatu pertanda menguatakan ada seorang nelayan

yang akan mencapai kailnya

di tahun-tahun mendatang.

Juli 16, 2008 at 7:37 am 2 komentar

penantian..

menanti seorang kekasih

dengan tangannya

meraih asaku

dengan hatinya

menggenggam cintaku

1/4 Dieng_Senja Surup

Juni 16, 2008 at 4:32 am 4 komentar

Tuhan di Sudut Pasar

Kemana lagi kakiku mesti melangkah

Mengharap sebuah upah

Untuk perut-perut kosong yang telah menanti

Untuk si sulung yang mesti bersekolah

 

Matahari senja

Serasa semakin akrab menemaniku

Pada sebuah sudut pasar becek dan kumuh

 

Mengapa hidup semakin ruwet

Seperti ini

Mana janji para mulut-mulut itu?

 

Sial!

Mereka sudah hilang entah kemana

 

Tuhan,

Lalu apalagi yang mesti kuperbuat

Agar perut keroncongan tak lagi

Kudengar menjelang malam

Bukankah kami hidup harus

Bersyukur atas nikmat-Mu

 

Tapi nikmat yang mana?

 

Apakah nikmat bahwa kami

Telah Engkau beri kehidupan

Meski selalu berteman derita dan sengsara

 

Tuhan,

Mengapa Kau beri kami hidup yang mahal?

Semua mahal

Bahkan untuk alas dan atap

Tempat tidur kami

 

Biar saja telinga

Para pengobral janji itu telah tuli

Tapi aku tahu Kau

Tidak seperti mereka

 

Tuhan,

Andai saja

Memotong nadi sendiri

Nikmat-Mu

Bukan murka-Mu

 

Bandulan, 3 Juni 08

 

Juni 6, 2008 at 3:57 am Tinggalkan Komentar

entahlah..

11 Mei 2008, sebuah kisah yang tak

telupakan

saat di mana

rasa-rasanya

aku menjadi seorang pengemis.

mengemis pada hati yang hampir 

sunyi.

Mungkin sekarang telah pergi.

Tuhan, andai saja

aku tak meletakkan dua kata

di hatiku, lelaki

dan cinta

mungkin tak pernah kujalani status sebagai

pengemis.

Memang tak selalu jalan

itu halus dan lurus

Smua harap dan usaha

toh belum tentu berujar keberhasilan.

 

Mei 12, 2008 at 11:33 pm Tinggalkan Komentar

telah datang…

telah datang

seorang adam

dengan membawa sebuah janji

janji yang masih harus kuraba

sepenuh hati.

maaf, aku masih belajar menggapai cinta untuk

memahami janji dan keputusan itu,

semoga waktu bisa membantuku

menemukan siapa sebenarnya orang yang mengajakku

untuk berjanji.

April 15, 2008 at 4:06 am Tinggalkan Komentar

Berkabung

tak ada lagi asa

harapan masih berkabung

nyanyian sunyi masih berdengung

dan esoknya

marilah berlari

mengejar bintang

dengan lengan dan langkah

yang tak pernah putus

berasa

Oktober 29, 2007 at 1:06 pm Tinggalkan Komentar

Masihkah Layak??

masihkah kita layak merana

sedang kita enggan bersyukur

masihkah kita layak mengadu

sedang kita malas beradu

masihkah,

masihkah kita layak menuntut hak-hak kita?

sedang kita adalah

jiwa-jiwa yang enggan bertanggung jawab

atas semuanya,

atas segalanya, perbuatan kita

persembunyianku_281007   20:58

Oktober 29, 2007 at 1:05 pm Tinggalkan Komentar


 

Mei 2012
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tulisan Terkini

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.