Posts filed under ‘PUISI’
Pesta Pengantin
Pesta itu telah usai
Para tamu-tamu itu telah berpulang
Kursi dan meja telah bertumpuk lagi
dan lampu-lampu mulai kembali padam
Pesta itu telah usai
Tak ada lagi hingar-bingar salon
Hentakan musik-musik campur darat
Semua kembali sepi
Seperti semula
Aku kembali terbaring lemah
di kamar sang pengantin.
Menemaninya menghabiskan malam
agar tak sepi.
Malang, 22 Juli 08 16:08
kidung lara
kidung panas masih saja setia berteman
saat malam yang tak bisa lagi menyepuh penat dan lara
saat tundung-tundung biru mulai berlari pada suatu padang berbuih
dan jendela kesuraman bertarung dengan pintu kebijakan
pada sebuah senja surup
terkulai sudah kisah yang berpeluh ini
biarkan saja tertiup angin sesukanya
yang pasti hanya akan berakhir
pada pintu almari yang tertutup kunci
dan gembokanya yang terlempar di sudut lelautan sepi
namun suatu pertanda menguatakan ada seorang nelayan
yang akan mencapai kailnya
di tahun-tahun mendatang.
penantian..
menanti seorang kekasih
dengan tangannya
meraih asaku
dengan hatinya
menggenggam cintaku
1/4 Dieng_Senja Surup
Tuhan di Sudut Pasar
Kemana lagi kakiku mesti melangkah
Mengharap sebuah upah
Untuk perut-perut kosong yang telah menanti
Untuk si sulung yang mesti bersekolah
Matahari senja
Serasa semakin akrab menemaniku
Pada sebuah sudut pasar becek dan kumuh
Mengapa hidup semakin ruwet
Seperti ini
Mana janji para mulut-mulut itu?
Sial!
Mereka sudah hilang entah kemana
Tuhan,
Lalu apalagi yang mesti kuperbuat
Agar perut keroncongan tak lagi
Kudengar menjelang malam
Bukankah kami hidup harus
Bersyukur atas nikmat-Mu
Tapi nikmat yang mana?
Apakah nikmat bahwa kami
Telah Engkau beri kehidupan
Meski selalu berteman derita dan sengsara
Tuhan,
Mengapa Kau beri kami hidup yang mahal?
Semua mahal
Bahkan untuk alas dan atap
Tempat tidur kami
Biar saja telinga
Para pengobral janji itu telah tuli
Tapi aku tahu Kau
Tidak seperti mereka
Tuhan,
Andai saja
Memotong nadi sendiri
Nikmat-Mu
Bukan murka-Mu
Bandulan, 3 Juni 08
entahlah..
11 Mei 2008, sebuah kisah yang tak
telupakan
saat di mana
rasa-rasanya
aku menjadi seorang pengemis.
mengemis pada hati yang hampir
sunyi.
Mungkin sekarang telah pergi.
Tuhan, andai saja
aku tak meletakkan dua kata
di hatiku, lelaki
dan cinta
mungkin tak pernah kujalani status sebagai
pengemis.
Memang tak selalu jalan
itu halus dan lurus
Smua harap dan usaha
toh belum tentu berujar keberhasilan.
telah datang…
telah datang
seorang adam
dengan membawa sebuah janji
janji yang masih harus kuraba
sepenuh hati.
maaf, aku masih belajar menggapai cinta untuk
memahami janji dan keputusan itu,
semoga waktu bisa membantuku
menemukan siapa sebenarnya orang yang mengajakku
untuk berjanji.
Berkabung
tak ada lagi asa
harapan masih berkabung
nyanyian sunyi masih berdengung
dan esoknya
marilah berlari
mengejar bintang
dengan lengan dan langkah
yang tak pernah putus
berasa
Masihkah Layak??
masihkah kita layak merana
sedang kita enggan bersyukur
masihkah kita layak mengadu
sedang kita malas beradu
masihkah,
masihkah kita layak menuntut hak-hak kita?
sedang kita adalah
jiwa-jiwa yang enggan bertanggung jawab
atas semuanya,
atas segalanya, perbuatan kita
persembunyianku_281007 20:58
Komentar Terakhir