kidung lara
Juli 16, 2008 at 7:37 am 2 komentar
kidung panas masih saja setia berteman
saat malam yang tak bisa lagi menyepuh penat dan lara
saat tundung-tundung biru mulai berlari pada suatu padang berbuih
dan jendela kesuraman bertarung dengan pintu kebijakan
pada sebuah senja surup
terkulai sudah kisah yang berpeluh ini
biarkan saja tertiup angin sesukanya
yang pasti hanya akan berakhir
pada pintu almari yang tertutup kunci
dan gembokanya yang terlempar di sudut lelautan sepi
namun suatu pertanda menguatakan ada seorang nelayan
yang akan mencapai kailnya
di tahun-tahun mendatang.
Entry filed under: PUISI. Tags: .
2 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
isfiya | Juli 16, 2008 pada 8:51 am
puisi yang indah… nice try…
Salam kenal, baca blogku juga ya .
http://www.isfiya.wordpress.com
2.
nafhiel | Juli 16, 2008 pada 9:09 am
terima kasih…..
semua hany sekedar kata-kata yang terasa saj.