Archive for Juli, 2008
Pesta Pengantin
Pesta itu telah usai
Para tamu-tamu itu telah berpulang
Kursi dan meja telah bertumpuk lagi
dan lampu-lampu mulai kembali padam
Pesta itu telah usai
Tak ada lagi hingar-bingar salon
Hentakan musik-musik campur darat
Semua kembali sepi
Seperti semula
Aku kembali terbaring lemah
di kamar sang pengantin.
Menemaninya menghabiskan malam
agar tak sepi.
Malang, 22 Juli 08 16:08
Menunggu Malam
a.
Jantungku berdegup-degup
justru ketika tak kutemukan sebuah nama.
Namamu.
Pada matahari yang mulai menerik
sehingga senja pun mengintip sunyi
b.
Mengapa yang orang bilang tak kutemukan
Bintang yang setia menemani malam
Sebab,
malam ini justru sunyi yang setia
menemani segala malam.
c.
Pada malam yang hampir kedua puluh
pada purnama ketiga,
tetap saja aku bermimpi pada tiap malam
namamu akan kembali
pada suatu malam yang tetap
menunggu.
Sumbersari, 180708
mencoba
mencoba terluka
tapi tak bisa
apalagi membenci
tak pernah terbesit
cinta sejati
tapi mencoba setulus hati
nyata sudah kisah-kisah
dalam tiap bilik darah, tangis, dan tawa
menggapai sebuah ketenangan jiwa
lewat dinding-dinding kaku
pada malam yang kembali sunyi
tanpa dering dan canda
mungkin semua mencoba dan tercoba
tak perlulah terluka
sebab sebagian makna
menyebutkan ketenangan
setengah jiwa
dengan raga yang terlelap di sana
Markaz,070708 14:50
kidung lara
kidung panas masih saja setia berteman
saat malam yang tak bisa lagi menyepuh penat dan lara
saat tundung-tundung biru mulai berlari pada suatu padang berbuih
dan jendela kesuraman bertarung dengan pintu kebijakan
pada sebuah senja surup
terkulai sudah kisah yang berpeluh ini
biarkan saja tertiup angin sesukanya
yang pasti hanya akan berakhir
pada pintu almari yang tertutup kunci
dan gembokanya yang terlempar di sudut lelautan sepi
namun suatu pertanda menguatakan ada seorang nelayan
yang akan mencapai kailnya
di tahun-tahun mendatang.
Komentar Terakhir